TAPANULI TENGAH – Upaya melestarikan kebudayaan lokal terkait dengan cerita rakyat secara khusus cerita rakyat dari Tanah Tapanuli kembali digaungkan oleh generasi muda. Adalah Tika Nisari, seorang Ibu dengan anak satu dari Tapanuli Tengah menginisiasi kegiatan kebudayaan Pementasan teater cerita legenda Barus dengan dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II Sumatera Utara.
Kegiatan tersebut digelar di SD Negeri 157022 Pahieme 4, Desa Pahieme, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah pada Sabtu (13/12/25).
Barus merupakan kawasan bersejarah dari Tanah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Singkatnya bahwa Barus merupakan kota kecil yang ada di pesisir barat Provinsi Sumatera Utara dengan luas wilayahnya mencapai 21,81 kilometer persegi atau 2.181 hektare.
Barus dahulu merupakan kawasan yang menjadi bandar niaga kelas dunia yang ramai dan sangat sibuk. Kapal-kapal asing silih berganti memasuki dan berlabuh di Barus untuk mengangkut kamper (sering disebut kapur barus), kemenyan, dan emas.
Faktanya jika Barus sejatinya dapat disebut sebagai kawasan yang pernah berjaya sebagai kota metropolitan di masa lalu.
Namun, seiring perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup saat ini, cerita tentang kejayaan Barus pada masa lalu banyak tidak diketahui oleh generasi penerus, maka dari itu perlu diadakan sebuah kegiatan kebudayaan yang berkaitan dengan cerita kejayaan Barus kuno agar terus diketahui oleh generasi penerus di masa mendatang.
Tika Nisari selaku ketua Pelaksana menegaskan, kegiatan ini sengaja dilaksanakan dengan tujuan untuk merevitalisasi dan memperkenalkan kembali cerita rakyat Barus kepada dua generasi sekaligus, yaitu generasi muda usia sekolah dasar sebagai penerus budaya, serta mahasiswa sebagai agen pelestari dan penyampai nilai-nilai kearifan lokal.
Generasi penerus tidak boleh lupa akan kebudayaan lokal dan sejarah daerahnya, tegasnya.
Dirinya berharap agar cerita rakyat kejayaan barus masa lalu terus diingat dan terus dilestarikan melalui berbagai cara, termasuk misalnya dengan kegiatan pementasan da workshop secara rutin.
“Kami ingin masyarakat Desa Pahieme secara khusus generasi penerusnya agar terus bersama-sama dapat kembali menghidupkan cerita rakyat atau kebudayaan lokal ini,” ujarnya.
Jumlah peserta dalam kegiatan ini sebanyak 50 orang dan bentuk kegiatannya kami kemas dengan sebuah pementasan teater legenda Barus yang diperankan oleh mahasiswa.
Hal ini agar lebih mempermudah peserta sehingga akan lebih edukatif dan menarik untuk anak-anak sekolah dasar.
Selanjutnya dalam kegiatan ini kami juga sertakan proses latihan dan pendampingan sebagai bagian dari transfer nilai budaya lintas generasi, lanjutnya.
Tika yang sehari-hari juga merupakan seorang dosen di Sekolah Tinggi Perikanan Dan Kelautan Matauli juga menyampaikan terima kasih kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatera Utara atas dukungan penuh pendanaan, ilmu, dan semangat sehingga kegiatan ini terlaksana dengan baik.
Kemudian dirinya juga menyampaikan terima kasih kepada kepala sekolah dan guru pendamping setiap kelas di SD Negeri Negeri 157022 Pahieme 4, serta Pemerintah Desa Pahieme atas dukungan penuh terhadap kegiatan ini.
Kami berharap kerja-kerja dalam pelestarian kebudayaan lokal di Kabupaten Tapanuli Tengah secara khusus dapat terus terjalin di masa mendatang, tutupnya dengan penuh harap.
(ASWIN)







